✍️ Oleh ; Abu Usamah JR
Setiap Rasul yang diutus oleh Allah selalu menyerukan persoalan yang sama kepada umatnya. Yaitu menyeru manusia agar mentauhidkan Allah dalam segala bentuk ibadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ
Artinya :Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (QS. Al-Anbiya Ayat: 25).
Tidak sedikit dari umat yang diseru kepada tauhid lantas mereka menentang seruan tersebut dan memusuhi Rasul yang diutus kepada mereka. Ajakan kepada kalimat tauhid Laa ilaha illallah terasa berat bagi mereka. Maka dengan sikap pongah dan sombongnya mereka menolak Laa ilaha illallah.
اِنَّهُمْ كَانُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ ۙ
Artinya ; Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “La ilaha illallah” (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri,(QS. As-Saffat Ayat: 35)
Sehingga sebagian besar manusia menolak untuk mentauhidkan Allah dan memilih kemusyrikan.
وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِاللّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ
Artinya ; Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka mempersekutukan-Nya. (QS. Yusuf Ayat: 106).
Seruan kepada Laa ilaha illallah mengandung makna berupa ketundukkan dan kepatuhan sepenuhnya kepada Allah azza wa jalla dengan wujud pengabdian atau peribadatan kepada Allah azza wa jalla saja. Seruan yang sepertinya mudah dan sederhana tersebut ternyata sangat berat bagi sebagian manusia, karena hal tersebut dianggap akan menghalangi kebebasan mereka memperturutkan hawa nafsunya. Sebagian orang lagi menganggap bahwa berkomitmen dengan tauhid hanya akan mempersulit dirinya untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan dunia. Allah Azza wa jalla mengungkapkan dalam al qur’an tentang pihak-pihak yang paling membenci dan merasa berat untuk menerima dakwah tauhid. Inilah orang-orang yang paling membenci dan paling berat untuk menerima dakwah tauhid ;
1.Para penguasa dzalim’
Setiap Rasul yang diutus oleh Allah untuk mengajak kaumnya agar mentauhidkan Allah, maka pihak yang pertama dan paling utama menentang dengan keras dakwah tersebut adalah para penguasa dzalim dan para pembelanya.
وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْ (٢٣)
۞ قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَهْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَاۤءَكُمْۗ قَالُوْٓا اِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
Artinya; Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.” (Rasul itu) berkata, “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.”(QS. Az-Zukhruf;23- 24).
Nabi Nuh ‘Alaihissalam tatkala menyeru kepada tauhid inilah jawaban pemuka kaumnya
قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Artinya ; Pemuka-pemuka kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al-A’raf Ayat: 60).
Jawaban Kaum ‘Ad ketika Nabi Hud ‘Alaihissalam mengajak mereka kepada Tauhidullah.
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَّاِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ
Artinya; Pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”. (QS. Al-A’raf Ayat: 66).
Respon kaum Tsamud ketika Nabi Shalih ‘Alaihissalam mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لِلَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا لِمَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ اَتَعْلَمُوْنَ اَنَّ صٰلِحًا مُّرْسَلٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ قَالُوْٓا اِنَّا بِمَآ اُرْسِلَ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ (٧٥) قَالَ الَّذِيْنَ
اسْتَكْبَرُوْٓا اِنَّا بِالَّذِيْٓ اٰمَنْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
Artinya;Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman di antara kaumnya, “Tahukah kamu bahwa Saleh adalah seorang rasul dari Tuhannya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami percaya kepada apa yang disampaikannya.”
Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu percayai.”.(QS. Al-A’raf:75- 76).
Jawaban kaum Nabi Lut ‘Alaihissalam
وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۚ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ
Artinya ;Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci. (QS. Al-A’raf Ayat: 82).
Inilah respon Kaum Madyan ketika diseru oleh Nabi Syuaib ‘Alaihissalam untuk beribadah kepada Allah saja.
قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لَنُخْرِجَنَّكَ يٰشُعَيْبُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَاۗ قَالَ اَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِيْنَ
Artinya ; Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syuaib berkata, “Wahai Syuaib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami.”Syuaib berkata, “Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak suka?(QS. Al-A’raf: 88).
Respon Namrudz ketika diseru oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam untuk beriman kepada Allah disebutkan oleh Allah dalam ayat berikut ;
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَاۤجَّ اِبْرٰهٖمَ فِيْ رَبِّهٖٓ اَنْ اٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ ۘ اِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّيَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۙ قَالَ اَنَا۠ اُحْيٖ وَاُمِيْتُ ۗ قَالَ اِبْرٰهٖمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۚ
Artinya ; Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” dia berkata, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.(QS. Al-Baqarah Ayat: 258).
Tatkala Nabi Musa ‘Alaihissalam menyeru Fir’aun raja Mesir ketika itu untuk beribadah kepada Allah saja, maka inilah ancaman Fir’aun kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam ;
قَالَ لَىِٕنِ اتَّخَذْتَ اِلٰهًا غَيْرِيْ لَاَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُوْنِيْنَ
Artinya ;Dia (Fir‘aun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara.”.(QS. Asy-Syu’ara’ Ayat: 29).
Demikian juga tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajak kaumnya kepada Tauhidullah maka pemuka-pemuka kaumnya seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Umayyah bin Khalaf adalah orang-orang yang terdepan untuk menentang seruan tersebut.
Para penguasa dzalim sangat menentang dakwah tauhid karena mereka takut kehilangan kekuasaannya jika mereka memilih beriman atau takut ditinggalkan pengikutnya jika dia beriman sementara kaumnya memilih kafir. Dan juga karena para penguasa dzalim jika ia tidak beriman sementara rakyatnya beriman maka pasti ia akan ditinggalkan oleh rakyatnya. Karena ketika itu status penguasa tersebut adalah thoghut yang harus diingkari dan dijauhi, sebab seruan semua Rasul adalah mengajak umatnya untuk beribadah kepada Allah saja dan menjauhi thaghut.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
Artinya ; Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).(QS. An-Nahl : 36).
Karena itulah kemudian para penguasa dzalim dengan keras menolak dakwah tauhid dan juga melarang kaumnya untuk mengikuti dakwahnya para Rasul. Bahkan para penguasa dzalim tersebut bertindak represif dan melakukan intimidasi terhadap para Rasul dan pengikutnya dan juga kepada orang-orang yang mendakwahkan tauhid serta mereka yang mengikutinya.
2.Orang-orang musyrik.
Orang-orang musyrik adalah mereka yang memalingkan ibadah kepada selain Allah atau mereka yang disamping beribadah kepada Allah juga beribadah kepada selain Allah. Tatkala mereka diseru untuk beribadah kepada Allah saja dan berhukum hanya dengan hukum Allah saja mereka merasa heran dengan konsep tauhid yang seperti ini. Karena bagi mereka ibadah, hukum dan ketaatan bukan mutlak milik Allah namun bisa juga diberikan kepada yang lain. Sehingga mereka membagi hal-hal tersebut sebagian untuk Allah dan sebagiannya untuk selain Allah.
Sehingga dalam prinsip kaum kafir sekuler ada istilah, ” berikan hak Allah untuk Allah dan hak raja untuk raja “. Yang mereka maksud dari ucapan ini adalah, Hak Allah adalah diibadahi dengan ritual seperti sholat, puasa, haji dan ibadah ritual lainnya. Adapun hak raja adalah mengatur negara, pemerintahan dan menetapkan hukum. Maka menurut mereka Allah ( dengan syariatNya) tidak punya hak untuk mengatur negara, pemerintahan dan hukum. Sehingga ketika mereka diserukan hanya untuk berhukum dan beribadah kepada Allah saja mereka sangat keras penentangannya.
Demikian pula halnya dengan kaum musyrikin para ‘ubadul kubur (penyembah kuburan) yang menjadikan kuburan para wali dan orang-orang shaleh sebagai tempat ibadah mencari berkah, menolak bala dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka merasa heran jika diseru hanya beribadah kepada Allah saja tanpa menggunakan perantara. Padahal sudah jelas di dalam ajaran islam bahwa Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk menjadi kuburan para wali dan kuburan orang-orang shaleh sebagai tempat ibadah untuk mencari berkah, menolak bala dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kedua jenis kaum musyrikin di atas sangat keberatan jika diseru kepada tauhid bahkan mereka sangat membencinya. Hal tersebut sebagaimana yang Allah sebutkan dalam beberapa FirmanNya berikut ini ;
۞ شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ
Artinya ; diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. Asy-Syura: 13).
اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
Artinya ; Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. (QS. Sad ;5)
Kebencian kaum musyrikin atas dakwah tauhid adalah karena dakwah tauhid mengungkap kebodohan dan kesesatan dari keyakinan dan pemikiran mereka. Sehingga dakwah tauhid itu ibarat obat kulit, yang jika terkena kulit yang berpenyakit maka akan terasa perih, namun jika sabar menahan perih maka obat itu akan menyembuhkannya. Begitulah keadaan kaum musyrikin ketika mendengarkan dakwah tauhid akan terasa perih karena mereka menderita penyakit syirik. Namun mereka tidak sabar dengan rasa perih tersebut sehingga mereka menentang dakwah tauhid, yang berakibat tidak sembuhnya penyakit syirik yang menjangkiti mereka.
3.Orang-orang munafik
Orang-orang munafik adalah mereka yang menampakkan keimanan secara lahir padahal hatinya dipenuhi dengan kekufuran. Diantara ciri orang munafik adalah memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir. Hal tersebut sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya :
بَشِّرِ الْمُنٰفِقِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ( ١٢٨) ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ(١٤٠)
Artinya ; Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,
(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.(QS. An-Nisa’: 138-139).
Maka sesungguhnya sifat dan perbuatan kaum munafik bertentangan dengan ajaran yang merupakan millah Ibrahim. Dimana tauhid menuntut seorang hamba untuk berlepas diri, memusuhi dan membenci orang-orang kafir beserta ajarannya. Hal tersebut sebagaimana yang Allah sebutkan tentang Millah Ibrahim / Millah tauhid dengan FirmanNya ;
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ اِلَّا قَوْلَ اِبْرٰهِيْمَ لِاَبِيْهِ لَاَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ اَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ شَيْءٍۗ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَاِلَيْكَ اَنَبْنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Artinya ; Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ”Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (QS. Al-Mumtahanah Ayat: 4).
Ayat di atas menyebutkan tentang sifat dari millah Ibrahim/millah tauhid, yang salah satunya adalah berlepas diri, membenci dan memusuhi orang-orang musyrik dan ajarannya. Dan orang-orang yang membenci millah Ibrahim/ millah tauhid adalah orang-orang yang memperbodoh dirinya sendiri, hal tersebut sebagaimana yang Allah terangkan dalam FirmanNya ;
وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗ ۗوَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا ۚوَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Artinya ; Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.(QS. Al-Baqarah : 130).
Adapun orang-orang bodoh (namun merasa pintar) adalah orang-orang munafik, hal tersebut Allah ungkap dalam FirmanNya ;
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا كَمَآ اٰمَنَ النَّاسُ قَالُوْٓا اَنُؤْمِنُ كَمَآ اٰمَنَ السُّفَهَاۤءُ ۗ اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاۤءُ وَلٰكِنْ لَّا يَعْلَمُوْنَ
Artinya; Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!” Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu. (QS. Al-Baqarah: 13).
Maka orang-orang munafik sangat benci jika dakwah tauhid berkembang dan merasa senang jika dakwah tauhid mengalami kemunduran. Sehingga orang-orang munafik akan menghalangi manusia untuk belajar tauhid. Berbagai macam upaya dilakukan oleh orang-orang munafik untuk menjauhkan manusia dari belajar tauhid. Diantaranya dengan memfitnah da’i yang mendakwahkan tauhid dengan fitnah yang keji yang disebarkan di media sosial. Memberikan julukan yang buruk kepada da’i yang mendakwahkan tauhid seperti menyebutnya sebagai ulama murjiah yahudiyah.
Sehingga pernah terjadi di jawa tengah, ketika ada seorang ustadz yang biasa mengisi kajian rutin meliburkan kajiannya karena uzur sedang Safar, maka si munafik langsung kegirangan dan mengungkapkan di akun Facebooknya dengan kata-kata, “alhamdulillah kajiannya bubar”. Sementara di lain kesempatan si munafik ini menghadiri majelis ulama musyrikin dan mengajak orang-orang juga untuk menghadirinya. Dalil yang dipakai katanya demi maslahat untuk kaum muslimin Palestina. Yang mengherankan, orang munafik seperti ini oleh orang-orang bodoh dan koplak dianggap sebagai ikhwan, sedangkan yang lebih bodoh lagi dari mereka menyebutnya sebagai ustadz.
perhatikanlah realita yang ada !,siapakah orang yang paling bersemangat menyebarkan syubhat untuk memalingkan para muwahidin masjunin dari tauhid ?.Ya…mereka adalah para murtadun pecundang. Siapa pula yang paling bersemangat menghalangi kaum muslimin dari mengikuti kajian islam ?.Yang bersemangat menyebarkan berita di media sosial fitnah dan provokatif untuk menjauhkan kaum muslimin dari kajian dakwah islam, yang mana orang-orang kafir asli saja tidak bersemangat seperti dia. Itu adalah orang munafik pendengki yang mengaku sebagai muwahidin yang juga didukung dan berteman dengan orang-orang bodoh. Maka sesungguhnya orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap dakwah tauhid adalah orang-orang yang pernah mengenal tauhid kemudian tersesat,mereka itu adalah murtadun dan munafikun. kenalilah apa yang mereka perbuat terhadap dakwah islam maka engkau akan tahu siapa orang-orangnya. jangan kalian lihat pengakuannya karena Iblis juga mengaku sebagai penesehat yang bijaksana dan mengaku sebagai penolong.
4.Orang-orang yang murtad.
Orang murtad adalah orang yang keluar dari islam disebabkan karena melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya. Yang boleh jadi orang-orang murtad itu sebenarnya tahu tentang ajaran tauhid yang benar. Namun ia melakukan perbuatan kemusyrikan atau kekafiran karena hawa nafsu atau karena kecintaannya kepada dunia. Dalam hati kecil mereka meyakini bahwa ajaran islam / ajaran tauhid adalah benar, dan mereka juga mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah keliru yang menyebabkan mereka sesat dan keluar dari islam.
Namun demikian orang-orang murtad tersebut tidak memilih untuk bertaubat untuk kembali kepada islam, namun memaksakan dirinya untuk nyaman menetap di atas kekafiran. Mereka berusaha untuk memenangkan diri ( yang sebenarnya tidak tenang di atas kekafiran) dengan cara menghalangi manusia dari mentauhidkan Allah dan menyeru orang lain kepada kesyirikan yang telah mereka ikuti. Mereka ini seperti Iblis ketika dia sudah sesat justru bersemangat untuk membuat orang lain sesat pula. Keadaan orang-orang murtad yang demikian telah ungkap dalam FirmanNya ;
وَدُّوْا لَوْ تَكْفُرُوْنَ كَمَا كَفَرُوْا فَتَكُوْنُوْنَ سَوَاۤءً فَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ اَوْلِيَاۤءَ حَتّٰى يُهَاجِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوْهُمْ وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ ۖ وَلَا تَتَّخِذُوْا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًاۙ
Artinya; Mereka ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman(mu), sebelum mereka berpindah pada jalan Allah. Apabila mereka berpaling, maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana pun mereka kamu temukan, dan janganlah kamu jadikan seorang pun di antara mereka sebagai teman setia dan penolong,(QS. An-Nisa’ Ayat: 89).
Upaya orang-orang murtad untuk menjadikan orang lain murtad adalah agar ia memiliki banyak kawan yang sepemahaman sehingga ia tidak merasa asing di tengah manusia. Maka tidak usah heran jika orang-orang murtad lebih semangat menghalangi manusia dari tauhid daripada orang kafir asli, karena mereka seperti Iblis yang tidak mau masuk neraka sendirian. Bahkan terkadang orang-orang murtad melemparkan perkataan syubhat untuk memalingkan muwahid dari tauhid dengan perkataan yang thoghut saja tidak berani mengatakannya. Ada orang murtad yang berani menjuluki Thoghut kepada Muawiyah bin Abi Sufyan yang merupakan sekretaris dan sahabat Rasulullah dan juga khalifah pertama Bani Umayah. Orang murtada yang lain menyebut seorang ulama tabi’in Hasan Basri Rahimahullah sebagai penyembah kuburan.semua ucapan orang-orang murtad itu dilontarkan dalam rangka memberi syubhat untuk memalingkan muwahidin dari tauhid. Sehingga orang-orang murtad yang demikian mendapatkan azab yang berlipat, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam FirmanNya ;
اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ زِدْنٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوْا يُفْسِدُوْنَ
Artinya ; Orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.(QS. An-Nahl ;88).
5.Para pengikut hawa nafsu dan ahlul maksiat.
Para pengikut hawa nafsu adalah orang-orang yang sangat sulit untuk diajak mengikuti kebenaran. Karena bagi mereka bukan persoalan benar atau salah yang mereka ikuti, akan tetapi mereka akan mengikuti apa yang cocok dengan hawa nafsu mereka dan yang membuat mereka senang. Mereka tidak peduli dengan aturan Allah, bagi mereka hawa nafsu itulah tuhan yang mereka ikuti dan taati kemauannya. Keadaan mereka yang demikian Allah ungkap dalam FirmanNya ;
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Artinya ; Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.(QS. Al-Jasiyah Ayat: 23).
Lalu mengapa para pengikut hawa nafsu (termasuk ahlul maksiat) sangat membenci dakwah tauhid?. Karena jika dia menerima dakwah tauhid itu artinya mereka harus tunduk dan patuh pada aturan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka harus berlepas diri dari semua isme, ajaran dan sistem hidup yang tidak bersumber dari pengajaran Allah dan Rasul-Nya. Yang boleh jadi ajaran, isme, idiologi atau sistem hidup yang sebelumnya dia ikuti menurut akalnya benar dan lebih menguntungkan untuk diikuti daripada dia harus tunduk kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Begitu juga para pelaku dan pecinta maksiat, mereka merasa berat untuk mengikuti ajaran tauhid. Sebab jika mereka mengikuti ajaran tauhid maka mereka harus meninggalkan hobinya memuaskan hawa nafsunya dengan maksiat. Mereka dituntut untuk meninggalkan perbuatan- perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Sulitnya mereka menerima hidayah dan bencinya mereka dengan dakwah tauhid adalah sebagai hukuman atas perbuatan mereka yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya. Dan juga karena mereka menutup diri dari hidayah dan menutup diri untuk melakukan perubahan kearah yang benar. Padahal Allah telah berfirman ;
ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya ; Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’d ;11).
6.Orang-orang yang mencintai dunia daripada akhirat.
Golongan manusia jenis ini adakalanya sebenarnya adalah orang-orang yang mengenal dan memahami tauhid, atau minimal pernah belajar tentang tauhid. Namun karena sebab lebih mencintai dunia sehingga ia memilih untuk mengorbankan tauhid. Apa yang mereka lakukan adakalanya terjadi setelah mereka diuji dengan kesusahan atau bencana karena komitmennya dengan tauhid. Mereka mencoba lari dari kenyataan bahwa keimanan itu akan diuji.Di saat ujian datang ia merasakan kesusahan lalu tidak bersabar dan menganggap seakan ujian keimanan itu seperti adzab dari Allah. Dengan anggapan seperti itu kemudian ia mencoba membebaskan dirinya dari kesusahan dengan cara meninggalkan tauhid. Masalah sebenarnya adalah karena kecintaan mereka terhadap dunia lebih besar dari kecintaannya kepada akhirat.
Tentang golongan manusia jenis ini Allah menyebutkan dengan firman-Nya ;
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ فَاِذَآ اُوْذِيَ فِى اللّٰهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللّٰهِ ۗوَلَىِٕنْ جَاۤءَ نَصْرٌ مِّنْ رَّبِّكَ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّا كُنَّا مَعَكُمْۗ اَوَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَعْلَمَ بِمَا فِيْ صُدُوْرِ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya ; Dan di antara manusia ada sebagian yang berkata, “Kami beriman kepada Allah,” tetapi apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap cobaan manusia itu sebagai siksaan Allah. Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu, niscaya mereka akan berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia?.(QS. Al-‘Ankabut Ayat: 10).
Ada pula orang-orang yang meninggalkan tauhid justru karena diuji dengan terbukanya pintu-pintuk kesenangan dan kenikmatan dunia. Dimana mereka menyangka bahwa jika ia tetap komitmen dengan tauhid maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk meraih kesuksesan dunia. Contoh orang seperti ini, adalah orang-orang yang mengorbankan tauhid demi mendapatkan gelar, kedudukan atau pekerjaan. Dimana mereka akan terhalang mendapatkan itu semua kecuali melalui prosedur atau jalan yang akan merusak tauhidnya. Untuk membenarkan pilihannya lantas mereka berdalil dengan maslahat dunia. Adakalanya juga orang seperti ini didukung oleh fatwa ulama su’ yang bodoh tentang tauhid. Ulama su’ tersebut membolehkan orang untuk mendapatkan gelar, kedudukan atau pekerjaan dengan jalan melakukan kekafiran.
Karena keinginannya untuk mendapatkan gelar, kedudukan atau pekerjaan lantas orang seperti ini mau menempuh jalan yang menghilangkan keimanannya. Tekadnya semakin kuat karena fatwa dari ulama su’. Padahal orang seperti ini mengetahui itu kekafiran dan ia pun sebenarnya membenci kekafiran itu. Tapi karena ambisi untuk mendapatkan gelar, kedudukan atau pekerjaan ia pun rela menempuh jalan kekafiran.
Allah telah menyebutkan tentang orang jenis ini dengan FirmanNya;
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى الْاٰخِرَةِۙ وَاَنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya ; Yang demikian itu disebabkan karena mereka lebih mencintai kehidupan di dunia daripada akhirat, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.(QS. An-Nahl: 107).
Tidak heran jika orang-orang seperti ini sangat membenci dakwah tauhid.Sebab dengan adanya dakwah tauhid akan terungkaplah kebodohan dan kesesatan mereka. Sebab mereka tidak punya dalil yang bisa dipertanggungjawabkan kecuali hanya alasan maslahat dunia. Yang dengan dalil tersebut justru nampaklah hakikat keadaan diri mereka yang lebih mencintai dunia daripada akhirat.
Itulah enam golongan manusia yang paling membenci dakwah tauhid. Dengan pemaparan ini sehingga para da’i yang mendakwahkan tauhid memiliki persiapan mental dan tidak kaget menghadapi tantangan dan resiko dalam mendakwahkan tauhid.
Wallahu a’lam
Persada bumi Allah 6 Safar 1447 H
Saya adalah seorang Muslim yang memulai Hijrah di tahun 1437 H /2015 M dan sekarang fokus pada tujuan Hidup dan mendalami perkara Aqidah Tauhid dan manhadj Ahlu sunnah wal jam’ah. selain itu ikut aktif dalam beberapa kelas belajar islam serta membantu Dakwah dan mengumpulkan Infaq, Zakat dan sedekah untuk perjuangan Islam dan kaum muslimin khususnya Dakwah Tauhid yang mulai langka, padahal ilmu paling utama dan yang pertama bagi ummat islam, selain hal tersebut saya InsyaAlloh siap mendampingi pembuatan Baitul Maal masjid di seluruh wilayah Indonesia dengan visi masjid menjadi pusat kepemimpinan dan sentral kaum muslimin.
