✍️ Oleh ; Abu Usamah JR
Amal seorang hamba akan diterima oleh Allah jika terpenuhi dua syarat, yaitu benar /ittiba’ /mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan ikhlas semata-mata mencari keridhoan Allah. Sehingga suatu amal yang dilakukan dengan ikhlas tapi tidak sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam maka akan tertolak. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ;
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka dia tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).
Dan juga karena untuk mendapatkan keridhoan Allah seorang hamba harus mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihiwassalam. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam FirmanNya ;
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya; Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran Ayat: 31)
Sedangkan suatu amal yang dilakukan oleh seorang hamba dengan benar tapi tidak ikhlas juga tertolak. Ikhlas artinya terbebas dari syirik, baik syirik akbar berupa menyekutukan Allah, maupun syirik asghar (kecil) yaitu riya. Sebab yang Allah perintahkan adalah agar seorang hamba dalam menjalankan perintah-perintah agama dengan ikhlas. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam FirmanNya ;
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Artinya ;”Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. (QS. Al-Bayyinah Ayat: 5).
Maka dengan demikian amalan seorang hamba akan diterima oleh Allah dan akan memperberat timbangan kebaikan di akhirat jika terkumpul padanya dua hal, yaitu benar mengikuti sunnah Rasulullah dan bebas dari segala macam bentuk syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil.
Agar beramal dengan benar sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihiwassalam maka seorang hamba harus menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh kepada orang-orang alim yang berpegang teguh dengan manhaj Ahlussunnah. Sehingga dengan menuntut ilmu ia akan mengetahui tata cara ibadah yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihiwassalam. Dan dengan ilmu pula ia akan tahu perkara-perkara bid’ah dalam ibadah yang harus dijauhi dan ditinggalkan.
Adapun untuk ikhlas dalam beramal ini adalah perkara niat yang ada di dalam hati yang hanya diketahui oleh Allah dan pelakunya. Namun demikian hendaknya seorang hamba senantiasa mendidik jiwanya agar memiliki niat yang lurus dan ikhlas dalam beramal. Sebab kerugian orang yang beramal tidak disertai dengan ikhlas meliputi kerugian di dunia dan akhirat. Di dunia ia lelah beramal sedangkan di akhirat ia tidak mendapatkan hasil amalnya kecuali seperti debu yang berterbangan atau seperti fatamorgana.
Meskipun keikhlasan amal seorang hamba adalah perkara batin namun dampaknya secara lahir akan nampak. Artinya ikhlas atau tidaknya amal seorang hamba akan terlihat indikasinya secara lahir. Sebab adanya keterkaitan antara lahir dan batin. Baik atau buruknya batin akan berimplikasi pada baik dan buruknya perbuatan secara lahir.
Orang yang beramal dengan ikhlas akan sentiasa bersemangat dalam beramal baik dalam kesendirian maupun di tempat keramaian. Sebab ia meyakini bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi Allah Al Latiif. Dalam kesendirian maupun di tengah keramaian baginya sama, karena ada Allah Yang Maha Mengawasi dan ada malaikat pencantat yang senantiasa menyertai.
يٰبُنَيَّ اِنَّهَآ اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
Artinya ; (Lukman berkata), ”Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti. (QS. Luqman Ayat: 16).
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Artinya ;Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qaf Ayat: 18).
Sedangkan orang yang beramal tidak ikhlas maka dia akan beramal di tengah keramaian dan meninggalkan amal ketika sendirian. Hal tersebut sebagaimana yang Allah sebutkan tentang sifat orang munafik ketika sholat dengan Firman-Nya;
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ
Artinya ; Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa’ Ayat: 142).
Orang yang tidak ikhlas akan malas dan merasa berat untuk beramal jika tidak dilihat orang. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).
Kenapa sholat subuh dan sholat isya terasa berat bagi orang munafik?. Karena kedua sholat tersebut dilakukan ketika kondisi gelap sehingga tidak dilihat oleh banyak orang. Sedangkan orang munafik niat sholatnya adalah agar dilihat oleh banyak orang. Sehingga karena sholatnya tidak dilihat oleh khalayak ramai maka dia malas melakukannya.
Orang yang ikhlas dalam beramal akan berusaha sebisa mungkin menyembunyikan amalnya dari sebelum, ketika dan sesudah beramal. Itu semua mereka lakukan demi menjaga amal mereka agar tidak hapus karena riya, sum’ah atau ujub.Mereka seperti singa yang diam dan tenang sebelum beraksi, ketika beraksi dan setelah beraksi. Meskipun mereka sudah beramal dengan benar namun mereka khawatir amal tersebut tidak diterima oleh Allah karena niat yang salah atau niat yang berubah di kemudian hari. Hal tersebut sebagaimana yang Allah sebutkan tentang sifat mereka dengan FirmanNya ;
وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ(٦٠) اُولٰۤىِٕكَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَهُمْ لَهَا سٰبِقُوْنَ(٦١)
Artinya; dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya,mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya. (QS. Al-Mu’minun Ayat: 60-61).
Berbeda dengan orang yang riya, ia akan mempromosikan amal yang akan dilakukan dari sejak berniat beramal. Dia akan mempromosikan apa yang akan dilakukan kepada setiap orang yang dikenal. Apalagi jika amal tersebut berkenaan dengan urusan islam dan kaum muslimin. Ia tidak memulai amalnya dengan perencanaan yang matang dan cerdas, tapi justru dengan kampanye dengan narasi bombastis tapi kosong dari langkah strategis. Mereka seperti anjing yang menggonggong sebelum, ketika dan sesudah beraksi. Meskipun aksinya gagal anjing tidak malu untuk terus menggonggong.
Kenapa demikian?, karena amal yang dilakukan bukan dengan tujuan meninggikan kalimat Allah tapi untuk meninggikan namanya sendiri. Ia ingin seluruh mata kaum muslimin pandangannya tertuju kepadanya dan memberikan apresiasi positif seperti yang dia harapkan. Sehingga tidak usah heran jika orang yang demikian justru akan melakukan langkah-langlah bodoh untuk mewujudkan ambisinya. Sehingga yang terjadi kemudian ambisinya yang besar menutupi kecerdasan akalnya sehingga justru yang nampak adalah kebodohannya.
Orang yang ikhlas dalam beramal tidak membutuhkan pengakuan orang. Ia juga tidak membutuhkan mata manusia untuk tertuju kepadanya. Ia akan sepenuhnya bertawakal kepada Allah dalam beramal dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Ia sama sekali tidak bersandar kepada makhluk dalam beramal. Keridhoan Allah baginya diatas segala kepentingan dunia dan dari keridhoan semua makhluk.
Berbeda dengan orang-orang yang tidak ikhlas dalam beramal. Ia tidak mencukupkan dirinya dengan pertolongan Allah. Bahkan ia tidak memiliki rasa percaya diri ketika melakukan amal yang berkaitan dengan urusan umat. Maka dia merasa perlu ada makhluk penopang untuk bersandar ketika beramal. Kenapa demikian?.
Karena diantara karakter orang yang tidak ikhlas itu suka mempersulit urusan orang lain dan sering berkonflik dengan pihak lain. Persoalan yang mudah akan menjadi sulit jika berurusan dengan orang yang tidak ikhlas. Sebagai contoh, Allah memberikan cara mudah ketika mendengar berita agar meneliti kebenarannya. Urusan yang begitu mudah menjadi sulit bagi orang yang tidak ikhlas. Sehingga ia memilih menyebarkan berita yang didengarnya meskipun belum memiliki bukti kebenarannya. Meneliti kebenaran berita menjadi sangat sulit bagi orang yang tidak ikhlas, tapi menyebarkannya adalah pekerjaan mudah baginya. Hal tersebut dikarenakan orang yang tidak ikhlas salah satu kebiasaannya suka mempersulit urusan orang lain.
Contoh yang lain, syariat memberikan petunjuk yang mudah ketika seseorang hendak menuduh pihak lain, yaitu mendatangkan bukti. Jika tidak memiliki bukti maka menahan lisan dari membuat tuduhan adalah jalan yang paling selamat. Akan tetapi orang yang tidak ikhlas ketika mendengar suatu berita yang mengandung unsur tuduhan kepada pihak lain akan segera turut serta melakukan tuduhan. Ketika dituntut untuk mendatangkan bukti yang dilakukan adalah membuat opini. Dan opini yang dibuat oleh dirinya sendiri itulah lantas yang diklaim sebagai bukti.
Dikarenakan orang yang tidak ikhlas itu sering mempersulit urusan orang lain dan berkonflik dengan orang lain, maka akan terkenallah ia sebagai orang yang dzalim dan buruk akhlak. Sehingga ia kehilangan kepercayaan di tengah umat dan ia pun teresistensi serta termarginalkan. Maka orang seperti ini butuh sarana untuk menaikkan reputasinya di tengah umat. Kemudian ia akan melakukan langkah-langlah agar mata manusia tertuju kepadanya.
Apa yang akan dilakukan oleh orang seperti ini?. Diantaranya adalah akan memanfaatkan isyu-isyu hangat yang berkembang di tengah umat. Ia akan tampil seperti seorang analis untuk membedah isyu-isyu tersebut meskipun ia tidak menguasai persoalan. Seperti membuat tulisan yang diklaim sebagai tulisan ilmiah untuk mengkritisi suatu persoalan, padahal cuma tulisan hasil chat GPT. Kemudian tulisan itu dijual ke publik untuk menghasilkan cuan. Tapi karena memang bodoh dan tidak menguasai persoalan sehingga dari tulisannya yang terlihat kedunguan yang amat sangat.
Atau cara yang lain adalah bertingkah seperti benalu yang menumpang hidup pada pohon yang sehat. Orang yang tidak ikhlas akan bersandar kepada orang lain yang ditokohkan ketika beramal. Ia menyebut bahwa, ia membawa amanah dari seseorang yang dianggap tokoh untuk melakukan ini dan itu. Tujuannya adalah agar ia mendapat dukungan dan simpati manusia dalam beramal.
Cara benalu yang lainnya adalah dengan mempromosikan diri seolah-olah sebagai orang yang memiliki kedekatan dengan orang yang ditokohkan. Ia melakukan pendekatan atau bahkan mempekerjakan orang yang dianggap tokoh untuk membantu mewujudkan ambisinya. Atau dia akan memberikan pujian kepada orang yang ditokohkan yang dikenal memiliki kebaikan. Kemudian pujian tersebut dipublikasikan untuk mencitrakan diri sebagai orang yang paling tahu dan paling peduli dengan urusan umat.
Atau cara lain yang paling mudah dan sederhana adalah sekedar berfoto bersama dengan orang yang ditokohkan. Kemudian foto tersebut disebarkan di media sosial untuk mencitrakan bahwa ia adalah orang baik yang dipercaya dan menjadi orang dekat dari orang yang ditokohkan. Hal tersebut dilakukan untuk menutup borok-borok dirinya yang sudah dikenal oleh kaum muslimin, atau sekedar mencari validasi karena tak mampu berprestasi. Itu semua dilakukan dengan satu misi untuk menaikkan reputasi, ketenaran dan sanjungan.
Ketahuilah bahwa, orang-orang yang sibuk mencari validasi, sanjungan atau ketenaran dengan cara-cara di atas kebanyakan adalah orang-orang yang tidak mampu berprestasi. Mereka ini butuh pengakuan dari manusia, dan sarana yang paling efektif pada hari ini untuk mewujudkan itu adalah melalui media sosial. Hal tersebut bisa dilakukan hanya dengan sekedar memajang foto atau membuat narasi pendek yang bombastis untuk mencitrakan kalau dirinya seakan orang yang paling tahu persoalan. Orang-orang yang haus akan ketenaran, sanjungan, pengakuan dan kedudukan adalah orang-orang yang hatinya rusak dan kosong dari tauhid.
Maka hendaknya orang-orang yang mendedikasikan tenaganya untuk menolong dienullah harus senantiasa mentarbiyah hatinya untuk ikhlas. Ikhlas itu bersumber dari hati yang makmur dengan tauhid yang tidak bercampur dengan syirik. Jika Tauhid telah tertancap kuat pada hati seorang hamba maka segala fatamorgana dunia seperti ketenaran, pengakuan manusia, sanjungan dan kedudukan akan dipandang rendah dan hina. Dan ia akan meyakini bahwa, keridhoan Allah, maghfirahNya dan jannahNya lebih berharga dari segala macam perhiasan dunia.
Allah ‘azza WA jalla telah berfirman ;
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya; Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”. (QS. At-Taubah Ayat: 105).
Karena itu beramal dan bekerjalah untuk menolong dienullah, pasti Allah akan melihat pekerjaanmu meskipun manusia tidak melihatnya. Jika mampu biarkanlah amalmu tertutup oleh gelapnya malam dan terkunci rapat oleh lisanmu yang diam. Biarkanlah amalmu tidak diketahui manusia karena tidak adanya pemberitaan di media sosial. Dan biarkanlah amalmu tidak diapresiasi oleh manusia karena tidak ada yang melihatnya. Namun yakinlah malaikat pencatat tidak akan mendzalimimu dan Allah tidak akan menyia-nyiakan lelahmu.
Wallahu a’lam.
Bumi Allah, 18 Syawal 1447 H
Saya adalah seorang Muslim yang memulai Hijrah di tahun 1437 H /2015 M dan sekarang fokus pada tujuan Hidup dan mendalami perkara Aqidah Tauhid dan manhadj Ahlu sunnah wal jam’ah. selain itu ikut aktif dalam beberapa kelas belajar islam serta membantu Dakwah dan mengumpulkan Infaq, Zakat dan sedekah untuk perjuangan Islam dan kaum muslimin khususnya Dakwah Tauhid yang mulai langka, padahal ilmu paling utama dan yang pertama bagi ummat islam, selain hal tersebut saya InsyaAlloh siap mendampingi pembuatan Baitul Maal masjid di seluruh wilayah Indonesia dengan visi masjid menjadi pusat kepemimpinan dan sentral kaum muslimin.
