✍️ Oleh : Abu Usamah JR
Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan bahwa Ia pasti akan memenangkan dienNya di atas semua dien yang ada. Ketetapan Allah ini pasti terjadi sebagai janji yang benar, adapun waktu terwujudnya sesuai dengan hikmah dan kehendakNya. Hal tersebut Allah sebutkan dan tegaskan dengan firmanNya berikut ini;
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
Artinya “;Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik Membencinya” (QS. As-Saff Ayat: 9).
Dienul Islam Allah turunkan sebagai sistem hidup bagi manusia. Karena itu untuk terwujud tegak dan menangnya dienul islam, Allah ‘azza wa jalla mengamanahkan kepada manusia. Yaitu melalui para utusanNya dan orang-orang yang membenarkan kabar yang dibawa oleh para utusanNya. Para utusan (Rasul) adalah manusia-manusia istimewa yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan ajaran kepada manusia. Untuk mendukung para Rasul dalam mengemban tugas menegakkan dienNya, maka Allah memilih orang-orang yang baik hatinya untuk menjadi pengikut Rasul-Nya. Sehingga tatkala seorang hamba dipilih oleh Allah untuk mendampingi para Rasul-Nya menegakkan dienNya atau melanjutkan perjuangan para Rasul, maka itu adalah suatu nikmat dan karunia dari Allah.
Karena itu jika seorang hamba diperankan oleh Allah untuk menegakkan dienNya, baik dalam kancah dakwah maupun jihad dengan harta atau pun jiwa, maka itu adalah suatu nikmat yang Allah kurniakan kepadanya. Bahkan sejak seorang hamba mendapatkan hidayah itu adalah nikmat yang Allah berikan kepadanya.
ۗمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
Artinya ;” Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahf Ayat: 17)
Begitu juga halnya setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba itu semua merupakan karunia dari Allah ‘azza wa jalla. Karena itu hendaknya seorang hamba menyandarkan segala kebaikan yang didapatkannya kepada Allah ‘azza wa jalla. Sehingga ketika seorang hamba diberi kesempatan oleh Allah untuk memiliki peran dalam menegakkan dienNya itu adalah nikmat yang harus disyukuri. Dan tidak layak bagi seorang hamba merasa bahwa dirinya telah memiliki jasa untuk perjuangan islam.
Allah ‘azza wa jalla telah menegur orang-orang Arab Badui yang merasa telah memberikan nikmat (merasa berjasa) kepada Rasulullah melalui keislaman, ketundukan dan pertolongan mereka terhadap beliau dengan firmanNya;
يَمُنُّوْنَ عَلَيْكَ اَنْ اَسْلَمُوْا ۗ قُلْ لَّا تَمُنُّوْا عَلَيَّ اِسْلَامَكُمْ ۚبَلِ اللّٰهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ اَنْ هَدٰىكُمْ لِلْاِيْمَانِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Artinya; Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat Ayat: 17).
Pada ayat di atas Allah menyebutkan bahwa, keislaman dan pertolongan mereka kepada Rasulullah bukan berarti mereka telah memberikan nikmat kepada Rasulullah. Namun yang benar adalah bahwa ,mereka menjadi seorang muslim kemudian menjadi pendamping Rasulullah adalah merupakan nikmat yang Allah kurniakan kepada mereka. Sehingga manfaat dari keislaman mereka dan kontribusi mereka dalam menolong Rasulullah kembali kepada mereka juga. Dan milik Allah kenikmatan yang dikaruniakan kepada mereka dalam keislaman mereka.
Jika saja orang-orang yang telah beriman dan telah menolong Rasulullah manusia yang paling mulia, tidak layak mengklaim bahwa mereka telah berjasa untuk islam, maka layakkah orang-orang selain mereka mengklaim telah berjasa untuk islam? . Dan apakah layak kita melabeli seseorang selain mereka dengan label telah berjasa besar karena hijrah dan jihadnya?.
Perhatikanlah do’a Rasulullah dalam perang ahzab ;
Ya Allah, kalau bukan karena Engkau, kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedekah, dan tidak akan shalat. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, dan kokohkanlah kaki kami jika bertemu musuh…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Do’a di atas adalah bentuk pengajaran Rasulullah kepada kaum muslimin tentang tauhid. Bahwa setiap nikmat kebaikan berupa mendapat hidayah, bisa bersedekah dan bisa mengerjakan sholat, itu semua adalah karena rahmat Allah ‘azza wa jalla. Sehingga orang-orang yang hatinya makmur dengan tauhid akan sentiasa menyandarkan kepada Allah setiap kebaikan yang ada pada setiap hamba. Maka termasuk bentuk perbuatan melampaui batas jika seorang hamba menyandarkan kebaikan kepada usahanya sendiri. Rasulullah saja bisa teguh di atas kebenaran karena Allah yang meneguhkannya. Hal tersebut Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam FirmanNya ;
وَلَوْلَآ اَنْ ثَبَّتْنٰكَ لَقَدْ كِدْتَّ تَرْكَنُ اِلَيْهِمْ شَيْـًٔا قَلِيْلًا ۙ
Artinya ;” Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka”. (QS. Al-Isra’ Ayat: 74).
Artinya bahwa, jika Allah tidak meneguhkan Rasulullah niscaya beliau akan cenderung kepada keinginan orang-orang musyrik.
Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihiwassalam berhasil dalam dakwahnya sehingga banyak manusia yang tertarik kepada Islam, maka Allah mengingatkan, :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya;” Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”. (QS. Ali ‘Imran Ayat: 159).
Allah menyebutkan pada ayat di atas bahwa, dengan rahmat Allah maka Rasulullah memiliki perilaku yang lemah lembut sehingga manusia tertarik kepada dakwah yang beliau sampaikan. Begitu juga tatkala Rasulullah dan kaum muslimin mendapatkan kemenangan, maka Allah menyebutkan bahwa itu adalah karena pertolongan Allah.
اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۚ وَاِنْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
Artinya, “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran Ayat: 160)
Tatkala Allah ‘azza wa jalla menyebutkan tentang orang-orang beriman yang berperang, Allah berfirman ;
فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰىۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَاۤءً حَسَنًاۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya ;” Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. (QS. Al-Anfal Ayat: 17).
Pada ayat di atas Allah menyebutkan tentang para mujahid yang berperang di jalan Allah bahwa, keberhasilan mereka membunuh orang-orang kafir, mengayunkan pedang, melemparkan tombak dan melesatkan anak panah ke arah musuh, maka bukanlah mereka yang membunuh dan bukan pula mereka yang melempar, akan tetapi Allah lah yang membunuh dan melempar. Pemaparan Allah pada ayat di atas untuk memupus anggapan dan klaim orang-orang beriman bahwa, mereka telah berjasa dalam jihad karena telah melemparkan tombak, mengayunkan pedang dan melesatkan anak panah untuk membunuh musuh-musuh Allah. Dan untuk mentarbiyah kaum mukminin untuk senantiasa menyandarkan kepada Allah atas setiap amal soleh yang mereka lakukan.
Maka dari sini kita akan tahu kedunguan orang yang memuji seorang hamba Allah dengan kalimat, “salah satu jasa besar beliau adalah berhijrah dan berjihad di Poso”. Kalimat tersebut juga menunjukkan bahwa hati penulisnya kering dari tauhid. Dimana ia sama sekali tidak menyandarkan kebaikan hamba Allah tersebut sebagai karunia dari Allah. Kita bisa bandingkan dengan para mujahid ketika mengabarkan kemenangan para mujahid yang berjihad akan mengawali pemberitaannya dengan, ” Atas pertolongan Allah pasukan kaum muslimin telah berhasil menghancurkan musuh Allah di… pada hari.. . “.
Asy Syaikh Al Mujahid Abu Mus’ab Az Zarqawi Rahimahullah yang telah Allah karuniakan untuk menghabiskan sebagian umurnya untuk dakwah tauhid dan jihad menyebutkan dirinya di hadapan para ikhwan dengan kalimat, ” adapun saudara kalian ini adalah orang yang telah menghabiskan sebagian waktunya dalam kesia-siaan… “.Padahal para mujahid zaman ini telah mengetahui jejak rekam beliau dalam dakwah dan jihad, namun beliau tidak mensifati dirinya sebagai orang yang telah banyak pengorbanannya dalam jihad, tapi justru menyebut dirinya sebagai orang yang telah menghabiskan waktunya dalam kesia-siaan.
Kita tidak dilarang untuk mengapresiasi kebaikan seorang hamba, namun harus proporsional dan menyandarkan kebaikan itu kepada Allah. Memuji seorang hamba Allah tanpa menyandarkan terlebih dahulu kepada Allah adalah gambaran hati yang kering dari tauhid. Memuji manusia melebihi dari kelayakan sama dengan mengenakan pakaian kepada orang yang tidak tepat. Yaitu seperti mengenakan pakaian bagus dengan ukuran XXL kepada orang yang bertubuh kurus. Bukan jadi tambah bagus tapi justru lucu dan tidak menarik.
Sehingga hendaknya kita senantiasa berhati-hati dalam mengapresiasi segala sesuatu. Jangan sampai karena hendak mencitrakan sebagai orang yang paling tahu atau karena ingin mengambil simpati manusia justru terbongkar isi kepalanya yang kosong dan terbuka dadanya yang kering kerontang.
Wallahu a’lam bishowab.
Persada Bumi Allah, 15 Syawal 1447 H
Saya adalah seorang Muslim yang memulai Hijrah di tahun 1437 H /2015 M dan sekarang fokus pada tujuan Hidup dan mendalami perkara Aqidah Tauhid dan manhadj Ahlu sunnah wal jam’ah. selain itu ikut aktif dalam beberapa kelas belajar islam serta membantu Dakwah dan mengumpulkan Infaq, Zakat dan sedekah untuk perjuangan Islam dan kaum muslimin khususnya Dakwah Tauhid yang mulai langka, padahal ilmu paling utama dan yang pertama bagi ummat islam, selain hal tersebut saya InsyaAlloh siap mendampingi pembuatan Baitul Maal masjid di seluruh wilayah Indonesia dengan visi masjid menjadi pusat kepemimpinan dan sentral kaum muslimin.
